Persalinan di Hiroshima

Pengalaman melahirkan di negeri orang

Disini, memasuki kehamilan 7 bulan (32 minggu) pemeriksaan kehamilan dilakukan di Rumah Sakit. Rekomen dari kantor city yaitu HigashiHiroshima Medical Center. Di bulan ke-7 kehamilan, pemeriksaan dilakukan setiap 2minggu sekali. Lalu pada bulan ke-8 (36 minggu) pemeriksaan dilakukan setiap minggu.

Selama pemeriksaan di RS, kita juga melakukan konsultasi dengan bidan/midwife dan juga ahli gizi. Bidan menggali informasi terkait riwayat kesehatan dan persalinan sebelumnya (jika ada). Bidan juga membantu merencanakan bagaimana nanti persalinan yang kita inginkan, misalnya bagaimana dengan dokter (jenis kelamin) yang akan membantu persalinan nanti, tentang breastfeeding, tentang alergi yang dimiliki, dan sebagainya. Sedangkan ahli gizi, antara lain membantu merencanakan bagaimana nanti asupan yang akan kita makan, misalnya terkait dengan halal haramnya makanan, kalo alergi/pantangan makanan tertentu bisa diberitahukan, tentang susu bayi jika ASI kita belum keluar nantinya (karena susu bayi disini kebanyakan tidak halal; mengandung babi) dan mereka menyarankan susu soya atau dari bahan nabati.

Pemeriksaan di RS, tidak hanya USG dan konsultasi dengan dokter, disini kita juga melakukan tes urin dan tes darah, serta transvaginal bahkan pada saat kunjungan pertama di RS juga dilakukan tes gula darah, banyak ya :). setiap dua minggu dilakukan rekam jantung bayi selama 30menit.

Ibu-ibu di Jepang dan yang saya lihat di HigashiHiroshima sangat mandiri, mereka melakukan pemeriksaan sendiri, datang sendiri ke RS tanpa ditemani suami mereka. Sayang saya tidak mengabadikan momen ini, karena kita tidak boleh mengambil foto orang sembarangan.

Orang Jepang, sedikit mengerti tentang islam, dan menurut saya, mereka mempelajari juga tentang islam dalam hal pelayanan di RS ini, mengingat pasien internasional juga lumayan datang kesini. Mereka sudah tahu kalau saya sebaiknya diperiksa oleh dokter perempuan, maka untuk berjaga-jaga mereka mempersiapkan surat pernyataan yang isinya saya bersedia menerima dokter laki-laki dalam hal darurat akan melahirkan, sesuai dengan dokter yang sedang jaga di saat itu.

Begini cerita saya ketika melahirkan. Kehamilan sudah 40minggu lebih, saya merasa khawatir dan takut sebenarnya. Disini saya merasa sendiri, karena sebelumnya persalinan saya ditemani oleh ibu. Maka saya telpon ibu saya, meminta ridho beliau agar saya dimudahkan dalam proses persalinan nanti. Alhamdulillah, dua hari setelah itu kontraksi pun terjadi. Saat itu jam 11 malam, SOP dari RS adalah menelpon dahulu baru berangkat ke RS. Malam itu suami mengetuk pintu tetangga yang bisa bahasa Jepang, karena sudah diperingatkan bahwa mereka (CS) kebanyakan hanya bisa bahasa jepang. Alhamdulillah sang tetangga ada di tempat, bahkan beliau bersedia menemani ke RS sampai saya masuk ke ruang persalinan. Tujuan menelpon adalah agar pihak RS bisa bersiap-siap, terrutama kamar untuk perawatan kita nantinya.

Sampai di RS masih harus melewati pemeriksaan, transvaginal untuk tahu pembukaan berapa. Lalu dihitung berat badan dan tinggi (untuk apa ya), selama menunggu pembukaan selanjutnya, dilakukan perekaman jantung bayi. Berhubung ini kali kedua saya melakukan persalinan, alhamdulillah sedikit tahu tahap per tahap ketika melahirkan.
Jam 3.06 saya melahirkan bayi putra kedua kami.
Saya dan suami masih di ruang bersalin hingga dua jam lamanya, bayi kami setelah dibersihkan diberikan kepada saya untuk disusui (ntah ASI sudah keluar atau tidak, yang jelas bayi sudah menempel pada PD dan mulai menyusu). Setiap beberapa menit, bidan menjenguk dan perut saya ditekan, sehingga keluarlah darah nifas yang masih ada dalam perut.

Jam 5 pagi saya dipindahkan ke kamar. Saat itulah sang bayi dipisahkan dari ayahnya hingga saat pulang nanti (setelah 6 hari baru bisa bersentuhan lagi). Saat itu saya ditanya, bayi mau di kamar dengan saya atau dititip ke bidan, jika saya ingin istirahat? Saya jawab, biar bayi didekat saya saja. Ah lelah sekali rasanya tapi senang juga.

Jam 7 pagi saya dibangunkan untuk belajar pipis, jujur saya masih takut karena teringat jahitan yang masih basah. Tapi perawat meyakinkan bahwa semuanya oke, ah lega rasanya setelah 2 kali saya pipis pakai kateter. Dalam toilet juga saya diajari cara bersih di toilet yang modern itu, tisu mana yang boleh dibuang di WC dan yang mana harus dibuang ke tempat sampah.

Setelah itu saya sarapan, sesuai request, makanan saya tanpa seasoning(bumbu) apapun alias hambar karena saya mensyaratkan no mirin/sake,no alcohol, no meat, and no seafood (karena saya alergi). Dari rumah saya sudah bawa kecap dam saos sambal, dan juga abon. Semua makanan dari RS saya makan dengan lahap, ntah lapar atau apa, tapi walaupun hambar makanan di RS terasa enak sekali mungkin karena proses pengolahannya jadi semua makanan terasa segar.

Di hari pertama itu juga, saya di ajarkan mengganti popok dan diberitahu planning care selama 5 hari kedepan. Beberapa hari kedepan akan ada cara memandikan bayi, tes pendengaran bagi bayi, tes kesehatan bagi ibu dan bayi, cek bekas jahitan sebelum pulang, reservasi tanggal untuk pemeriksaan setelah 40hari, dll.
Selama di RS, bidan dan perawat sangat care. Terkait pemberian ASI, mereka melihat saya bagaimana memberikan ASI ke bayi, seperti bonding (pelekatan) yang benar agar tidak terjadi lecet pada puting. Di hari kedua saya baru mengeluhkan puting yang lecet, setelah dilihat ternyata cuaca yang dingin membuat kulit jadi kering dan rentan mengalami lecet/luka, maka mereka memberi saya pelembab yang aman jika tertelan oleh bayi.

Jika ibu dan bayi lain, melakukan kegiatan menyusui ‘harus’ diruangan khusus menyusui, maka saya tidak seperti itu. Hal ini karena bayi saya sudah cukup ‘besar’,terlahir dengan berat 3,6kg dimana kebanyakan bayi Jepang lahir dengan berat dibawah 3kg. Jadi di ruangan menyusui tersebut, bayi ditimbang dulu sebelum disusui, lalu diberi ASI masing-masing PD selama 10-15 menit,setelah itu ditimbang lagi penambahan berat yang terjadi. Ribet ya >.< Saya mengikuti proses ini 2 kali karena bidannya berbeda, mereka hanya ingin melihat cara saya menyusui dan penambahan berat yang terjadi. Selebihnya saya bebas menyusui bayi kapan pun di kamar tanpa terbatas waktu (harus 10menit gitu, suka-suka bayi saja) dan tidak harus bolak-balik dari kamar ke ruang khusus menyusui. Kenapa strict sekali seperti ini, karena mereka concern dengan penambahan berat badan yang ideal, jika memang susu sang ibu kurang, maka solusi berikutnya adalah susu formula, atau jika memang sang ibu kurang benar dalam proses pemberian ASI (pelekatan misalnya) maka mereka akan mengajarkan cara menyusui yang benar.

Hari-hari selanjutnya masih dengan perhatian yang sama, saya ditanya tentang konstipasi, hemorroid, bagaimana ASI saya, bagaimana dengan jahitan, apa ada keluhan.

Oh ya, bayi disini hanya boleh bertemu dengan sang ibu dan petugas medis saja. Anggota keluarga yang mau menjenguk hanya bisa lihat melalui jendela kaca, tanpa bisa menyentuh apalagi mencium. Kasian si Ayah dan Abang (anak saya yang pertama). Dan juga yang menjenguk disini dibatasi hanya keluarga inti saja dan grandparents. Ah, coba saja di Indonesia, kalau bisa satu RT yang jenguk.

Saya dan bayi saja yang menginap di RS, tidak boleh ada anggota keluarga lainnya karena saya berada di shared room dimana ada pasien lainnya juga, dan mereka akan merasa terganggu jika ada laki-laki lain, begitu juga kebalikannya kepada saya. Jadi pasien dan penjenguk hanya boleh berjumpa di lobby. Ada kamar private jika dimana keluarga bisa menjenguk di dalam kamar, tapi harga per malam ngeri banget, 5.000 yen (sekitar 600ribu).

Tentang biaya, sebenarnya biaya melahirkan untuk kasus normal seperti saya sudah lumayan disubsidi oleh pemerintah. Bayangkan saja 420.000 yen bantuan pemerintah, dan saya diharuskan membayar deposit sebesar 78.000 yen. Ternyata ketika pulang masih harus menambah sekitar 63.000 yen lagi. Kenapa biayanya bertambah, karena saya melahirkan diluar jam kerja para petugas tersebut, yang notabene dihitung sebagai lembur mereka. Beda kasus dengan teman yang malah dikembalikan uangnya sebanyak 2.000 yen, yah beruntung mereka bisa melahirkan di jam dan hari kerja. Karena kita tidak tahu kapan sang bayi mau lahir kan??
Tapi kalau melahirkan dengan proses ceasar, biaya persalinan bisa saja gratis, karena kejadian ini dianggap sebagai musibah di Jepang, kecuali proses operasinya dilakukan di hari libur dan diluar jam kerja, maka kena juga biaya tambahan. hehehheehhe.. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: