Here We Go, Banda Aceh \^.^/ (edited)

Alhamdulillah kami berkesempatan mengunjungi provinsi paling barat, bahkan sampai ke Kota Sabang. Berbekal tiket promo, keluarga kecil kami terbang ke Banda Aceh. Sebenernya ada sedikit masalah yang cukup mengkhawatirkan pada keberangkatan kali ini. Jadwal pesawat kami sebagai berikut: Pekanbaru-Medan 09.20-10.30; Medan-Banda Aceh 11.00-12.00. Selang waktu cuma 30 menit utk melanjutkan ke penerbangan berikutnya, apakah cukup ya, jangan-jangan kami bakal ketinggalan pesawat ke Aceh. Bahkan ketika kami menginformasikan penerbangan kami, petugas maskapai tidak bisa menjanjikan sebuah kepastian, karena idealnya untuk transit paling tidak butuh jeda waktu 3jam. Sedangkan penerbangan kami ini bukanlah connecting flight, maka dengan niat dan doa yang tulus, kami random saja apa yang akan terjadi nanti, dengan harapan bahwa semua akan berjalan sesuai rencana.

Perencanaan sudah disusun sedemikian rupa agar kami punya cukup waktu untuk check in ulang di Medan, salah satunya kami tidak menggunakan bagasi agar hemat waktu. Tiket yang kami punya Pekanbaru-Medan sudah boarding dari Pekanbaru jam 09.00. Selama di pesawat deg-deg an banget. Kami berusaha nego dengan kru pesawat agar kami tidak perlu turun dari pesawat. Negosiasi yang cukup alot dan kami merasa cukup terbantu oleh kru pesawat tersebut. Ketika sampai di Bandara Polonia (ketika itu belum pindah ke Kualanamu),Medan, petugas darat maskapai tersebut sudah bersedia membantu kami untuk membayarkan boarding pass sehingga kami sebenarnya tidak perlu turun dari pesawat. Sampai akhirnya ketahuan sama supervisor (atau manager namanya entalah), kami pun harus tetap turun dari pesawat lalu keluar lagi dari area bandara untuk kemudian masuk kembali membeli boarding pass SENDIRI. Oke tak apalah, kami akan menjalani semua itu asalkan kami tetap ditunggu untuk keberangkatan ke Banda Aceh. Sang supervisor pun mengawal kami sampai akhirnya masuk kembali ke pesawat.

Tiba di Banda Aceh tepat waktu, cukup puas dengan kinerja maskapai pesawat yang berpusat di Kuala Lumpur tersebut. Ya Air Asia mewujudkan mimpi kami dan mengubah hidup kami menjadi traveler Perjalanan masih panjang teman..

Sesampainya di Aceh, tujuan pertama kami adalah Kota Sabang. Berangkat dari bandara kami menuju pelabuhan Ulee Lheue. Ada pilihan moda transportasi untuk mencapai pelabuhan tersebut. Pertama, naik taxi aja dengan tarif mulai 70rb bahkan sampai 100rb tergantung tawar menawar anda. Nah kami menggunakan cara yang kedua, ada bus Damri dari bandara menuju kota Banda Aceh dengan tarif 15rb per orang, pool bus Damri ini tepat disebelah Masjid Raya. Dari pool bus, kita lanjut lagi naik becak motor dengan tarif 25rb ke pelabuhan. Sepanjang perjalanan dalam bus, saya mulai menghubungi kenalan kami, mulai dari teman yang di Sabang sampai keluarga jauh yang berdomisili di Banda. Sampai di pelabuhan kami kelaparan, masih ada waktu untuk makan tapi saya memilih tidak makan karena waktu yang sangat mepet. Kami naik kapal lambat selama 3 jam dengan tarif kelas eksekutif sebesar 35rb. Kurang puas sebenarnya dengan harga segitu dan kelas agak tinggi namun hasil yang di dapat kami kepanasan selama perjalanan. Oh ya, dalam kapal ini sudah ada teman saya yang akan menjadi guide sekaligus induk semang kami selama di Sabang. Kebetulan beliau dari Banda karena ada pelatihan dan pulang pada hari yang sama dengan liburan kami. Coincidence :p

Sampai di pelabuhan Kota Sabang, kami sudah dijemput istri temanku itu. Kami jadinya membawa motor masing-masing menuju rumah mereka. Hari yang melelahkan tapi cukup puas sudah menginjakkan kaki di Sabang. Nostalgila masa kuliah, cerita tentang keluarga dan anak, senang rasanya. Setelah mandi dan cukup beristirahat, kami pergi keluar untuk makan malam. Makanan andalan disini adalah sate gurita dan tentunya mie Aceh. Saya dan suami masing-masing mencoba makanan tersebut. Sate guritanya dengan kuah kacang terasa agak kenyal, khas sekali makanan laut. Namun mie Acehnya enak banget dan terasa sekali bumbunya, seperti masakan India. Setelah perut kenyang, langsung pulang karena capek dan menyiapkan energi untuk petualangan esok hari

Hari ini petualangan kami di Sabang di mulai. Dengan menggunakan sepeda motor, tujuan pertama kami adalah tugu nol kilometer. Kondisi jalan yang cukup mulus namun medan yang cukup sulit. Kontur tanah perbukitan sehingga kita sering menjumpai jalan yang sangat curam. Setelah cukup membuat dokumentasi aka foto-foto narsis, kami melanjutkan ke daerah Iboh yang terkenal dengan pantainya yang cantik. Ada banyak fasilitas wisata air di daerah ini misalnya snorkling dan diving. Kami hanya snorkling dengan menyewa alat sebesar 50rb per orang. Kalo mau diving dan sudah punya sertifikat agak mending la, tapi kalo ga pernah sama sekali maka anda diharuskan hire seorang pendamping profesional. Hari cukup terik siang itu, setelah makan siang kami pulang dulu kerumah untuk istirahat sejenak. Perjalanan dilanjutkan setelah ashar sekaligus liat sunset🙂

Iboih's panorama

Iboih’s panorama

Anoi itam

Anoi itam

Anoi itam view

Anoi itam view

Sore ini kami menuju Anoi Itam, ada resort dengan nama yang sama, bisa jadi referensi untuk kunjungan berikutnya. Tapi saya ga tau berapa tarif per malamnya. Yang pasti mahal karena resort ini punya view pantai yang sangat indah, ngademin. Selanjutnya kami ingin menuju benteng peninggalan Belanda dan Jepang, namun menurut teman saya tidak ada yang bisa dilihat dari benteng itu selain bangunan usang yang sdh tertimbun tanah. Maka kami melanjutkan ke pantai sumur tiga yang tidak jauh dari lokasi Anoi Itam. Di pantai ini agak bebas dan sepi jika ingin main air atau berenang, tidak seperti di Iboh yang sudah banyak pedagang. Lalu kami ke Danau Aneuk Laot hanya untuk berfoto-foto dari pinggir jalan, untuk sampai ke danau nya cukup jauh sedangkan waktu terbatas. Kami ingin melihat sunset di pantai dekat alun-alun (apa ya bahasa yang pas selain alun-alun, yang jelas daerah kota deh). Ditempat ini banyak keluarga dan pasangan yang menunggu waktu magrib sambil menikmati sunset dan suara ombak. Setelah magrib kami lanjut dinner dan tidak lupa pesen mie aceh. Sebelom pulang, kami beli tiket kapal cepat untuk kembali ke Banda Aceh esok pagi dengan tarif 65rb per orang utk kelas bisnis.

waiting for sunset

waiting for sunset

Kapal berangkat jam8 dan kami harus bisa tiba secepatnya karena tempat duduk bisa jadi rebutan tidak berdasarkan nomor kursi yang tertera di tiket. Untuk sampai ke Pelabuhan Balohan, kami dicarikan sejenis taxi/angkot ya, tarifnya 15rb per orang. Untuk masuk ke kapal rebutan, syukur kami bisa dapat tempat duduk. Setelah 45 menit, kami sudah tiba di Ulee Lheue kembali. Puas sekali, cepat sampainya..

to be continued

1 Comment (+add yours?)

  1. Danan Wahyu Sumirat
    Aug 22, 2014 @ 10:17:11

    konon jalur termurah Jkt-Banda Aceh dengan AA, jadi muter dulu ke KL dijamin murah dari maskapai indonesia yg direct

    http://dananwahyu.com/2014/07/03/semangat-muda-bersama-airasia/

    http://dananwahyu.com/2014/08/19/pengalaman-pertama-airasia-kelana-candi/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: