sang iri hati

ini adalah kisah nyata.

sekitar tahun lalu, kami sering sekali mengunjungi tempat makan itu. disana ada mie ayam yang lumayan enak, harganya juga terjangkau memang disana cuma gerobak artinya bukanlah tempat permanen dimana hanya tersedia pada jam tertentu selain mie ayam disana ada sarapan pagi berupa lontong sayur: makanan khas minang.

seiring berjalan waktu, saya tahu bahwa tukang mie ayam tersebut menyewa tempat sedangkan empunya lahan yang berjualan lontong sayur. masing-masing penjual mendapat lahan berjualan yang sama. namun yang beli mie ayam lebih banyak dibanding pembeli lontong sayur sehingga terkadang harus duduk di tempat lahannya lontong sayur.

selain menjual lontong, teh botol juga dijajakan sebagai pelengkap bagi yang berminat. sesuai iklannya, orang Indonesia sangat mudah dipengaruhi sehingga apapun makanannya, minumnya tetap teh botol. mungkin penjualan teh botol lebih banyak pula dari lontongnya. ada keengganan jika harus makan di tempat duduk yang jatahnya untuk penjual lontong, kenapa? karena yang punya memasang muka berkerut walaupun tetap mengiyakan jika kita ijin duduk disana. ga enak banget rasanya makan, tp diikuti dengan pandangan sinis seperti itu.

selang berapa lama, ada kerinduan untuk makan mie ayam itu lagi. ada kecurigaan karena antrian kali ini termasuk cepat. ternyata jika diperhatikan, sang penjual telah berganti, bukan mas dan mbak yang biasa melayani dan jelas saja mie ayam yang dijual pun berbeda, nggak enak. kapok lagi belanja ditempat itu.

bulan berganti, saya selalu memperhatikan tempat jualan lontong itu. gerobak mie ayam telah berganti nama, dan beragam upaya dilakukan untuk menarik perhatian pengunjung. dan lama kelamaan, gerobak mie ayam itu menghilang, yang ada hanyalah gerobak lontong saja. hahahaha, siapa yang tahan berpatner dengan orang yang ga suka orang lain sukses. padahal sebenarnya, sang punya lahan tetap bisa untung dengan penjualan teh botol saja dan sewa bulanan tempat berjualan.

kerinduan akan mie ayam mbak A*** terbayarkan ketika secara tidak sengaja hanya melihat gerobak mie ayam yang sepertinya saya kenal. ternyata benar, itu mie ayam langananku. sebenarnya letaknya tidak jauh dari tempat yang lama. sang penjual mie ayam pun bercerita perihal pindahnya tempat mereka berjualan. seperti yang sudah saya kira sebelumnya, penjual mie ayam tidak tahan melihat tabiat penjual lontong.

pada pertengahan tahun tadi, ruko disebelah tempat lontong itu disulap menjadi tempat kuliah. seperti tempat-tempat umum lainnya, kebanyakan mahasiswa membawa motor. lahan parkir yang sempit tidak mampu menampung motor-motor tersebut sehingga harus ekspansi juga ke lahan parkir penjual lontong. pada beberapa bulan pertama tidak terjadi perubahan apa-apa yang saya lihat. namun sebulan terkahir ada aktivitas tukang bangunan di tempat itu. ternyata si penjual lontong, meninggikan lahannya yang sebelumnya agak sedikit melandai. akibatnya, mahasiswa tidak bisa lagi seenaknya parkir di lahan penjual lontong.

saya ga habis pikir koq ada orang yang ga suka melihat orang lain sukses/senang.

semoga kita menjadi manusia yang mau berbagi dan saling menolong dalam kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: