Tempat Belanja Halal

Ada beberapa tempat belanja untuk warga muslim di Jepang, khususnya warga Higashi Hiroshima.

1. DDH
2. Bangkok Store
3. Toko Cina
4. Toko Indonesia (online)
http://toko-indonesia.org/

5. Sariraya (online)
http://japanhalal.com/shop

6. Kumamoto halal food (online)
http://www.siswahyu.com/warungindonesia/index.php

Advertisements

Tokyo

Hari 1
Perjalanan dimulai dari higashi hiroshima menuju stasiun Tokyo. Berangkat jam 9.07 dan diperkirakan tiba jam 13.33. Walaupun ceritanya naik shinkansen, tp kesalahan kami cuma memesan 2 kursi untuk dua orang dewasa, 1 anak dan 1 bayi, jadilah sempit-sempitan deh dan akhirnya suami nomaden mencari kursi yang kosong. Shinkansen itu ada gerbong reserved dan non reserved. Kalau reserved sudah dipastikan dapat kursi sesuai yang tertera di tiket, tapi kalo non reserved, siapa cepat dia yang dapat tempat duduk.

Sampai di Tokyo tepat waktu. Setelah itu kami makan siang bekal yang sudah dibuat dari rumah. Tujuan hari ini adalah Odaiba, pulau buatan yang ada robot Gundamnya. Namun cuaca saat itu mendung, perkiraan gerimis sampai malam hari. Akhirnya kami putuskan untuk langsung menuju apato yang sudah di booking via Airbnb. Apato kami di daerah okubo, satu stasiun dari shinjuku station.

Malam hari sempat keluar ke shinjuku sebentar melihat keramaian ibukota.

Hari 2
Rencana hari ini menjelajah Shibuya, Harajuku, Yoyogi dan sekitarnya.

Sebenarnya trip ini adalah trip colongan. Kebetulan suami ada pertemuan di Tokyo, saya dan anak-anak ikutan deh, kan lumayan tiket PP suami dan penginapan gratis (dibayarin kampus 😀 ). Tapi karena trip colongan tadi, jadinya seperti setengah hati dijalanin.

Pagi-pagi doi dah sibuk sama paper dan persiapan presentasi. Jadwal doi kan sore hari, jadi saya merasa bisa ajakan kita muter-muter sebentar. Ternyata senseinya ngajak ketemuan untuk membahas apalah. Hilang fokus deh kalo sudah kayak gini.

wp-1490194255910.jpeg

Dari apato kita langsung menuju shibuya. Petunjuk jelas banget deh, hachiko exit. Sepertinya patung hachiko sudah menjadi landmark dan musti foto sama tu anjing >.<  Berkejaran dengan waktu, doi ingetin lagi bahwa dia janjian ma senseinya. Ya sudahlah kita ngalah, cuma ngeliatin lalu lintas shibuya gitu deh, ga jadi mo cuci mata liat mall.

Langsung deh cuss menuju kampus tempat pertemuan. Setelah makan siang, doi kan mo ketemu ma sensei, trus saya dan anak-anak ngapain dong, masa mo nungguin sampe sore. Ya udah, saya dan anak-anak jalan sendiri deh. Sesuai rencana awal, kami menuju harajuku. Ya untuk pertama kali ke Tokyo, kita itinerary mainstream aja. Harajuku itu yang ngetop kan Takeshita street dan Daiso nya.

Sebenarnya ada satu lagi di kawasan ini yaitu Ometesando, pusat perbelanjaan juga yang ga kesampaian karena kaki dah pegal jalan terus gendong bayi pula. Kurus-kurus, aamiin.

Hari ke 3

Hari ini kami pindah apato ke daerah Asakusa.

Karena trip ini colongan, jadi ceritanya penginapan 2 hari di okubo itu di bayarin kampus (redeem) karena terkait acara doi di Tokyo ini, kita kan cuma nebeng aka penggembira saja. Nah penginapan 2 hari berikutnya baru tanggung sendiri.

Dari okubo menuju asakusa itu kita menggunakan JR line lalu pindah subway Ginza line. Titik transitnya bisa di akihabara, itu loh yang terkenal pusat elektroniknya. Saya dah seneng aja mo mampir, mo cari kamera rencananya, tapi doi hari ini janjian lg ma senseinya. Ya udah lanjut menuju apato deh, titip barang dulu karena baru bisa cek in jam 2 siang, sedangkan pas sampe sana baru setengah satu. Tanggung banget ya, tapi di jepang ini kejujuran di atas segalanya lho.. Meski host yang punya rumah ga lihat langsung, tapi kan CCTV ada dimana-mana, trus bisa aja nanti dia kasih review kita jelek di akun Airbnb, kedepannya kan jadi susah kl mo booking pake Airbnb lagi.

Setelah taroh koper gede banget. Doi ke kampus tempat pertemuan, sedangkan saya dan anak-anak menuju Odaiba, pulau buatan yang ngetop dengan patung gundammya.

Sayangnya, ternyata gundam sedang dibongkar. Kabar yang beredar, sang gundam akan dipindahkan ke tempat lain. Berita yang lain menyebutkan, patung ini akan diganti dengan gundam versi terbaru. Wallahualam. Anak saya lumayan kecewa, karena sebenarnya sudah lama saya menjanjikan akan melihat gundam di Tokyo, tapi baru kesampaian saat ini, ketika gundamnya sedang di bongkar.

 

Lanjut menuju spot berikutnya, patung liberty. Rasa-rasa Amerika gapapa la, sebelum liat patung yang benerannya di Amerika sana :D.

Sesungguhnya ada banyak spot yang bisa dikunjungi di Odaiba ini, antara lain Madame Tussauds, Legoland,dan beberapa museum (Trick Art, Takoyaki, Science, etc). Tapi karena saya jalan sama balita dan bayi, sendirian pula, perjalanan dicukupkan saja untuk hari itu. Janjian sama ayahnya anak-anak di stasiun deket apato.

Pulang kita isi perut dulu supaya sampe apato bisa langsung istirahat. Di jalan ketemu restoran india, tulisannya halal siy, ya udah coba aja masuk. Cuma pesen 1 paket kari sama ebi(udang) goreng bumbu khas india gitu, lupa istilah namanya apa. Itu aja doi dah ngomel karena mahal buat kantong kita :p

Mampir Kaminarimon dulu la sebelom pulang dan tetiba saya ingat ada ramen halal deket Sensoji Temple ini, tapi mungkin karena malam hari dan suasana pertokoan sudah sepi, kami tidak menemukan letak resto ramen halal tersebut.

 

Hari ke empat

Ke Gunung Fuji

Perjalanan hari ini sudah direncanakan sejak lama. Menuju gunung fuji, kami menggunakan bus yang memang tujuannya ke gunung fuji, stasiun Lake Kawaguchi tujuan akhirnya dan berangkat dari stasiun Shinjuku. Agak random juga ini itinerary-nya karena juga menyesuaikan dengan teman  yang mo bareng ke Fuji dan beliau cuma bisa di hari ke empat ini. Kalo bisa di hari kedua atau ketiga kan sebenernya leih deket kalo berangkat dari okubo, lumayan hemat waktu dan biaya 🙂

Jadwal tiket bus 10.45 dan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Untuk pulang pada sore harinya jam 17.40. Tiket ini sudah di booking online 2 minggu sebelum keberangkatan dan inilah hasilnya, cuma tersisa jam segini dan seat pun dapetnya termasuk bagian belakang.

Ketika sampai langsung menuju Lake Kawaguchi dengan jalan kaki kurang lebih 15 menit. Disitu belum kelihatan gunung Fuji nya. Setelah makan siang dari bekal yang di bawa, kami menuju kachi-kachi ropeway (kereta gantung). Kita sampai pada spot paling bagus untuk melihat Gunung fuji, sayangnya suasana mendung, kurang jelas kalo di foto tapi subhanallah memang indah ciptaan Allah.

Catatan: Ropeway ini hanya beroperasi sampai jam 3 sore, karena yang saya lihat mereka sedang melakukan perawatan di tempat tersebut. Mungkin agar lebih nyaman dan aman bekerja jika tidak ada pengunjung. Saya terlalu asyik foto selfi sampe foto sekeluarga hampir lupa, pas mo foto bareng rame-rame, eh malah disuruh turun karena sudah habis jam operasionalnya.

Pas di atas beli tiket terusan, ropeway dan juga naik kapal dari lake kawaguchi tadi. Dari kapal ini juga bisa terlihat gunung fuji dengan jelas, apalagi kalo suasana cerah akan bagus sekali tertangkap kamera

 

Hari ke lima

Pfyuh.. Sisa-sisa tenaga rasanya. Siap-siap packing langsung check out. Rencananya koper gede ini mau di titip di koin locker, sudah bertanya ke security tapi kita yang ngerti arahan beliau, jadilah tuh koper digeret terus.

Hari ini explore sekitar penginapan di asakusa. Persis belakang apato adalah Kitchen kapabashi, tempat penjualan alat-alat dapur, banyak banget yg menarik dari cutter cookies, loyang, cetakan kue, berbagai jenis pisau tapi saya mencari cetakan takoyaki yg bisa di taroh atas kompor bukan yg elektrik. Harga disini termasuk tinggi lho..

Tujuan berikutnya adalah ramen halal naritaya yang ada di sebelah persis Sensoji Temple, setelah pencarian gagal di malam hari. Kali ini harus nemu, dan ketemu akhirnya. Saya ga tau ya rasa ramen itu sebenernya gimana, jadi yang ini biasa aja, enak-enak saja 😀

Hari sudah siang, target jam 7 malam sudah sampai stasiun Tokyo tapi masih banyak tempat yg ingin dikunjungi. Anak paling gede seneng banget ma tower-tower yang ada di Jepang. Maka utk memenuhi keinginan anak, tujuan terakhir kita adalah Tokyo Skytree. Dari asakusa bisa naik kereta, tapi memanglah tokyo sangat padat, banyak sekali jalurnya sampai bingung sendiri, sudah nanya pun masih nyasar, kita muter2 disitu aja selama beberapa lama. Sudahlah akhirnya diputuskan jalan kaki menuju Skytree, sebenernya ga terlalu jauh tapi kondisi dengan sisa tenaga jadinya capek banget. Daerah Tokyo Skytree sendiri punya banyak spot yang bisa dikunjungi. Ada akuarium, museum science anak, pertokoan, dan tokyo skytree itu sendiri. Antrian panjang dan waktu sudah jam 3 sore. Sepertinya tidak memungkinkan utk naik ke skytree, ya sudah kita menghabiskan waktu di mall aja, tapi mampir museum science dulu.

Malam itu shinkansen terakhir menuju higashi hiroshima. Anginnya masih dingin sekali menusuk ke tulang. Sampai apato langsung hidupkan penghangat, anak-anak langsung tidur, kita bersih-bersih badan baru tidur.

 

 

pegawai

aku tidak pernah datang ketika undangan rapat di sekolah anak
tidak pernah juga menghadiri acara-acara pesta di sekolah misalnya pawai/parade
tidak pernah mengantar/menjemput anak di sekolah
tidak pernah menemaninya ketika kunjungan/pameran dari sekolah

bahkan aku tidak pernah mengantarnya imunisasi di posyandu
aku malah pergi ke bidan di malam harinya dan harus membayar (padahal di posyandu gratis)

karena ketika itu, aku sedang berada di kantor

disaat orang lain bebas keluar masuk kantor sesuka hati
datang dan pergi mengurus keperluan keluarga
hanya datang absen di pagi hari, lalu ijin kemudian
hanya datang setor muka lalu pergi dan tak kembali hingga esok hari
aku… tak bisa melakukan hal yang sama..

mungkin aku tak cocok jadi pegawai

Persalinan di Hiroshima

Pengalaman melahirkan di negeri orang

Disini, memasuki kehamilan 7 bulan (32 minggu) pemeriksaan kehamilan dilakukan di Rumah Sakit. Rekomen dari kantor city yaitu HigashiHiroshima Medical Center. Di bulan ke-7 kehamilan, pemeriksaan dilakukan setiap 2minggu sekali. Lalu pada bulan ke-8 (36 minggu) pemeriksaan dilakukan setiap minggu.

Selama pemeriksaan di RS, kita juga melakukan konsultasi dengan bidan/midwife dan juga ahli gizi. Bidan menggali informasi terkait riwayat kesehatan dan persalinan sebelumnya (jika ada). Bidan juga membantu merencanakan bagaimana nanti persalinan yang kita inginkan, misalnya bagaimana dengan dokter (jenis kelamin) yang akan membantu persalinan nanti, tentang breastfeeding, tentang alergi yang dimiliki, dan sebagainya. Sedangkan ahli gizi, antara lain membantu merencanakan bagaimana nanti asupan yang akan kita makan, misalnya terkait dengan halal haramnya makanan, kalo alergi/pantangan makanan tertentu bisa diberitahukan, tentang susu bayi jika ASI kita belum keluar nantinya (karena susu bayi disini kebanyakan tidak halal; mengandung babi) dan mereka menyarankan susu soya atau dari bahan nabati.

Pemeriksaan di RS, tidak hanya USG dan konsultasi dengan dokter, disini kita juga melakukan tes urin dan tes darah, serta transvaginal bahkan pada saat kunjungan pertama di RS juga dilakukan tes gula darah, banyak ya :). setiap dua minggu dilakukan rekam jantung bayi selama 30menit.

Ibu-ibu di Jepang dan yang saya lihat di HigashiHiroshima sangat mandiri, mereka melakukan pemeriksaan sendiri, datang sendiri ke RS tanpa ditemani suami mereka. Sayang saya tidak mengabadikan momen ini, karena kita tidak boleh mengambil foto orang sembarangan.

Orang Jepang, sedikit mengerti tentang islam, dan menurut saya, mereka mempelajari juga tentang islam dalam hal pelayanan di RS ini, mengingat pasien internasional juga lumayan datang kesini. Mereka sudah tahu kalau saya sebaiknya diperiksa oleh dokter perempuan, maka untuk berjaga-jaga mereka mempersiapkan surat pernyataan yang isinya saya bersedia menerima dokter laki-laki dalam hal darurat akan melahirkan, sesuai dengan dokter yang sedang jaga di saat itu.

Begini cerita saya ketika melahirkan. Kehamilan sudah 40minggu lebih, saya merasa khawatir dan takut sebenarnya. Disini saya merasa sendiri, karena sebelumnya persalinan saya ditemani oleh ibu. Maka saya telpon ibu saya, meminta ridho beliau agar saya dimudahkan dalam proses persalinan nanti. Alhamdulillah, dua hari setelah itu kontraksi pun terjadi. Saat itu jam 11 malam, SOP dari RS adalah menelpon dahulu baru berangkat ke RS. Malam itu suami mengetuk pintu tetangga yang bisa bahasa Jepang, karena sudah diperingatkan bahwa mereka (CS) kebanyakan hanya bisa bahasa jepang. Alhamdulillah sang tetangga ada di tempat, bahkan beliau bersedia menemani ke RS sampai saya masuk ke ruang persalinan. Tujuan menelpon adalah agar pihak RS bisa bersiap-siap, terrutama kamar untuk perawatan kita nantinya.

Sampai di RS masih harus melewati pemeriksaan, transvaginal untuk tahu pembukaan berapa. Lalu dihitung berat badan dan tinggi (untuk apa ya), selama menunggu pembukaan selanjutnya, dilakukan perekaman jantung bayi. Berhubung ini kali kedua saya melakukan persalinan, alhamdulillah sedikit tahu tahap per tahap ketika melahirkan.
Jam 3.06 saya melahirkan bayi putra kedua kami.
Saya dan suami masih di ruang bersalin hingga dua jam lamanya, bayi kami setelah dibersihkan diberikan kepada saya untuk disusui (ntah ASI sudah keluar atau tidak, yang jelas bayi sudah menempel pada PD dan mulai menyusu). Setiap beberapa menit, bidan menjenguk dan perut saya ditekan, sehingga keluarlah darah nifas yang masih ada dalam perut.

Jam 5 pagi saya dipindahkan ke kamar. Saat itulah sang bayi dipisahkan dari ayahnya hingga saat pulang nanti (setelah 6 hari baru bisa bersentuhan lagi). Saat itu saya ditanya, bayi mau di kamar dengan saya atau dititip ke bidan, jika saya ingin istirahat? Saya jawab, biar bayi didekat saya saja. Ah lelah sekali rasanya tapi senang juga.

Jam 7 pagi saya dibangunkan untuk belajar pipis, jujur saya masih takut karena teringat jahitan yang masih basah. Tapi perawat meyakinkan bahwa semuanya oke, ah lega rasanya setelah 2 kali saya pipis pakai kateter. Dalam toilet juga saya diajari cara bersih di toilet yang modern itu, tisu mana yang boleh dibuang di WC dan yang mana harus dibuang ke tempat sampah.

Setelah itu saya sarapan, sesuai request, makanan saya tanpa seasoning(bumbu) apapun alias hambar karena saya mensyaratkan no mirin/sake,no alcohol, no meat, and no seafood (karena saya alergi). Dari rumah saya sudah bawa kecap dam saos sambal, dan juga abon. Semua makanan dari RS saya makan dengan lahap, ntah lapar atau apa, tapi walaupun hambar makanan di RS terasa enak sekali mungkin karena proses pengolahannya jadi semua makanan terasa segar.

Di hari pertama itu juga, saya di ajarkan mengganti popok dan diberitahu planning care selama 5 hari kedepan. Beberapa hari kedepan akan ada cara memandikan bayi, tes pendengaran bagi bayi, tes kesehatan bagi ibu dan bayi, cek bekas jahitan sebelum pulang, reservasi tanggal untuk pemeriksaan setelah 40hari, dll.
Selama di RS, bidan dan perawat sangat care. Terkait pemberian ASI, mereka melihat saya bagaimana memberikan ASI ke bayi, seperti bonding (pelekatan) yang benar agar tidak terjadi lecet pada puting. Di hari kedua saya baru mengeluhkan puting yang lecet, setelah dilihat ternyata cuaca yang dingin membuat kulit jadi kering dan rentan mengalami lecet/luka, maka mereka memberi saya pelembab yang aman jika tertelan oleh bayi.

Jika ibu dan bayi lain, melakukan kegiatan menyusui ‘harus’ diruangan khusus menyusui, maka saya tidak seperti itu. Hal ini karena bayi saya sudah cukup ‘besar’,terlahir dengan berat 3,6kg dimana kebanyakan bayi Jepang lahir dengan berat dibawah 3kg. Jadi di ruangan menyusui tersebut, bayi ditimbang dulu sebelum disusui, lalu diberi ASI masing-masing PD selama 10-15 menit,setelah itu ditimbang lagi penambahan berat yang terjadi. Ribet ya >.< Saya mengikuti proses ini 2 kali karena bidannya berbeda, mereka hanya ingin melihat cara saya menyusui dan penambahan berat yang terjadi. Selebihnya saya bebas menyusui bayi kapan pun di kamar tanpa terbatas waktu (harus 10menit gitu, suka-suka bayi saja) dan tidak harus bolak-balik dari kamar ke ruang khusus menyusui. Kenapa strict sekali seperti ini, karena mereka concern dengan penambahan berat badan yang ideal, jika memang susu sang ibu kurang, maka solusi berikutnya adalah susu formula, atau jika memang sang ibu kurang benar dalam proses pemberian ASI (pelekatan misalnya) maka mereka akan mengajarkan cara menyusui yang benar.

Hari-hari selanjutnya masih dengan perhatian yang sama, saya ditanya tentang konstipasi, hemorroid, bagaimana ASI saya, bagaimana dengan jahitan, apa ada keluhan.

Oh ya, bayi disini hanya boleh bertemu dengan sang ibu dan petugas medis saja. Anggota keluarga yang mau menjenguk hanya bisa lihat melalui jendela kaca, tanpa bisa menyentuh apalagi mencium. Kasian si Ayah dan Abang (anak saya yang pertama). Dan juga yang menjenguk disini dibatasi hanya keluarga inti saja dan grandparents. Ah, coba saja di Indonesia, kalau bisa satu RT yang jenguk.

Saya dan bayi saja yang menginap di RS, tidak boleh ada anggota keluarga lainnya karena saya berada di shared room dimana ada pasien lainnya juga, dan mereka akan merasa terganggu jika ada laki-laki lain, begitu juga kebalikannya kepada saya. Jadi pasien dan penjenguk hanya boleh berjumpa di lobby. Ada kamar private jika dimana keluarga bisa menjenguk di dalam kamar, tapi harga per malam ngeri banget, 5.000 yen (sekitar 600ribu).

Tentang biaya, sebenarnya biaya melahirkan untuk kasus normal seperti saya sudah lumayan disubsidi oleh pemerintah. Bayangkan saja 420.000 yen bantuan pemerintah, dan saya diharuskan membayar deposit sebesar 78.000 yen. Ternyata ketika pulang masih harus menambah sekitar 63.000 yen lagi. Kenapa biayanya bertambah, karena saya melahirkan diluar jam kerja para petugas tersebut, yang notabene dihitung sebagai lembur mereka. Beda kasus dengan teman yang malah dikembalikan uangnya sebanyak 2.000 yen, yah beruntung mereka bisa melahirkan di jam dan hari kerja. Karena kita tidak tahu kapan sang bayi mau lahir kan??
Tapi kalau melahirkan dengan proses ceasar, biaya persalinan bisa saja gratis, karena kejadian ini dianggap sebagai musibah di Jepang, kecuali proses operasinya dilakukan di hari libur dan diluar jam kerja, maka kena juga biaya tambahan. hehehheehhe.. 😀

TK / Kindergarten / Youchien

Anak saya berumur 4,5 tahun pada saat kami mendaftarkannya ke TK disini.

Sama seperti di Indonesia, TK disini juga ada yang swasta dan punya pemerintah. Yang swasta tau la ya, SPP nya lumayan mahal, maka dari itu kami mendaftarkan ke TK pemerintah yang dapet subsidi jadi bayaran bulanan lebih ringan.

Pendaftaran TK dibuka pada bulan Februari dan untuk TK negeri lumayan bersaing ya, karena kuota yang tersedia biasanya hanya beberapa kelas yang diperebutkan oleh anak-anak Jepang juga. Alhamdulillah, anak kami mendapatkan satu kursi di TK dan kelas di mulai awal April.

Persiapan masuk TK cukup menguras dana, alhamdulillah lagi Allah maha baik, kami mendapatkan sebagian perlengkapan sekolah dari hibah teman-teman yang akan balik ke Indonesia.

Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk masuk TK, antara lain seragam plus topi (sekitar 4 jenis, tapi yang sering dipakai cuma 1 jenis), tas ( ada 4 macam tas tangan plus 1 tas punggung), tempat minum yang dikalungkan di leher, sepatu (indoor dan outdoor), peralatan gosok gigi ( gelas, odol, dan sikat gigi), tempat makan ( termasuk sendok/garpu/sumpit dan tas khusus untuk menjaga makanan tetap hangat, kalau saya siy). Semua peralatan tersebut diberi nama anak kita ya, ditulis dengan huruf katakana. Di tempel rapi kalo perlu ditempel lagi dengan selotip/isolasi supaya tidak gampang copot dan anti air.

Selain itu juga kita diwajibkan membawa/membeli peralatan berikut untuk di taroh di TK seperti buku gambar, pensil warna juga crayon (2 jenis ya), lem, gunting, clayboard, kotak untuk menyimpan clay. Peralatan ini juga harus diberi nama ya.

Berikut penampakan apa saja yang perlu dipersiapkan, karena terus terang saya blank banget pengetahuan tentang ini, cuma berbekal buku panduan dari TK trus gambarnya pun hasil fotocopy jadi cuma hitam putih, gak jelas.
image

image

image

image

image

 
image

image

image

Jangan pergi ke Jepang

Kamu yakin mau ke Jepang???

1. Jauh dari keluarga
Namanya juga merantau, pastilah jauh dari orang-orang terkasih. Tapi ga usah khawatir, dengan kecanggihan teknologi saat ini, jarak bukanlah masalah. Kita masih bisa komunikasi dengan keluarga koq, bisa manfaatin tu WhatApps, Line, Facebook, ato media sosial lainnya. Lagipula, di tempat baru janganla pula mengurung diri. Ada komunitas pelajar Indonesia yang bisa jadi tempat berbagi. Ikuti semua kegiatan yang diselenggarakan dengan komunitas lokal ini. Jadi nambah keluarga baru kan.

2. Rindu makanan Indonesia
Saya membayangkan foto-foto makanan indonesia yang bertebaran di timeline salah satu medsos saya. Wuiih, ngiler.. Sebenernya bisa aja buat sendiri untuk mengobati rasa kangen. Masalahnya saat ini saya belum tau tempat belanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Tau sendiri kan di jepang, masakannya sangat minim dengan bumbu. Beda dengan makanan kita, yang satu masakan aja, bumbunya banyak banget.

3. Semua tulisan huruf kanji
Ini menyulitkan apalagi pas terima surat dari kantor walikota, ga bisa baca deh tu surat, apalagi mengerti Isi nya. Trus, kesulitan berikutnya pas cari makanan halal, resto disini menu nya pake kanji, sedikit sekali yg disertai bahasa inggris. Sebenernya bisa aja kita hapalin kalimat yg ‘jangan pake babi’ ato pesan vegetarian food. Imbasnya mending masak sendiri kan, tapi lagi-lagi pas mo modif masakan dan mencari bahan2 yg halal, mentok lg deh tuh sama huruf kanji. Hal ini bisa disiasati dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yaitu google translate, yah walopun kadang artinya suka ngaco, setidaknya kita punya gambaran maksud tulisan kanji tersebut. Cara lainnya adalah, berteman dengan orang lokal, misalnya kawan di kampus yang orang jepang, minta tolong beliau tu bacain surat yang mungkin dianggap penting, seandainya masih kurang jelas ketika bertanya dengan Om google 😛

4. Ga semua orang bisa bahasa inggris.
Masih nyambung dg poin no.3, pas kita mo jalan niy dg moda transportasi umum misalnya bus dan kereta, semua tulisannya pake kanji. Pusing tuh baca tulisan.
Tapi tenang saja, meski tidak banyak yang bisa bahasa inggris, orang jepang itu pada dasarnya ramah dan suka menolong. Jika kita bertanya tentang sesuatu atau lagi bingung niy, mereka dengan senang hati akan membantu mencari jawaban. Entah pake googling, ntah cari orang yang bisa bahasa inggris dan cara lainnya.

5. Biaya hidup mahal
Ya iyalah bro n sis, kalau anda bandingin dengan rupiah, duit kita jauh nyungsep. Makanya ga usah dihitung pake rupiah. Caranya, duit anda yang ada disini, dicukupkan saja untuk biaya hidup disini. Beasiswa itu sudah dihitung dengan cermat dan diperkirakan cukup untuk biaya hidup satu bulan, kecuali kita nya boros dengan jajan mulu. Ada beberapa cara untuk menghemat pengeluaran disini, antara lain belila barang/perkakas seperti pakaian, peralatan masak,dll di barang bekas, walopun namanya begitu tapi barang disini masih terjaga kualitasnya, toh kita juga bisa pilih sesuai standar kualitas kita. Orang jepang tu kebanyakan duit, jadi kalo ada keluar model baju terbaru, baju lama dah dianggap ketinggalan jaman. Cara lainnya yaitu cari barang di toko murah seperti daiso atau 100Y, semua barang disini harganya 100 yen sebelum kena pajak, tinggal pilih aja sesuai kebutuhan kamu. Beberapa supermarket juga menerapkan harga diskon pada jam malam, biasanya di atas jam 7 malam.

 

Gimana, masih berani ke Jepang???

Santai aja teman, saya yakin kita bisa survive di negeri orang, anggap saja nambah pengalaman hidup buat bahan diceritain ke anak cucu di masa yang akan datang.

Sepeda, motor atau mobil

Ketika kamu baru sampai di Jepang, kamu perlu alat transportasi yang mendukung mobilitas kamu selama disini.

Ada banyak sekali fasilitas umum disini seperti bus dan kereta, taksi ga usah dihitung ya.. Terlalu mahal untuk mahasiswa apalagi pengangguran seperti saya :p

Namun fasilitas tersebut terbatas waktu, apalagi bus, pada hari libur jam operasionalnya berkurang dari pada hari kerja biasa.

Maka dari itu kita perlu pertimbangkan beberapa moda transportasi lainnya seperti sepeda, motor, atau mobil.

Berikut saya review beberapa hal yang bisa membantu teman2 menentukan pilihan.

1. Sepeda
Kalau kamu sendiri saja ke Jepang, maka sepeda cukup memadai.. Sepeda pun ada banyak pilihan (manual/electric) dan brand..
Nah jika sendiri, maka brand merk China cukup lah, harganya pun cukup murah untuk kantong mahasiswa, sekitar 10.000 ¥ untuk yang manual, 40-50rb yen untuk yang elektrik. Sedangkan merk ternama seperti Yamaha, Panasonic, dan Bridgestone mulai 85rb yen untuk yang elektrik.
Tapi kalau kamu berencana membawa keluarga terutama anak-anak, maka pilihannya menurut saya adalah sepeda elektrik dan hanya sepeda bermerk lokal yang memadai. Karena tidak semua sepeda diperbolehkan memasang boncengan.
Ada banyak sekali aturan disini. Salah satunya keamaan dalam membonceng anak. TIDAK diperbolehkan membawa anak di sepeda tanpa menggunakan kursi khusus boncengan. Akan saya bahas lebih lanjut tentang sepeda ini dibahasan berikutnya.

2. Motor
Motor di Jepang ini hanya bisa digunakan untuk satu orang, tidak bisa bawa penumpang kecuali motor gede dan itupun jarang banget dijumpai. Untuk menggunakan kendaraan bermotor seperti motor dan mobil, kita perlu lisensi (SIM), dan ini syarat yang agak sulit diperoleh di Jepang. Jika ketahuan tidak punya SIM maka dendanya sangat besar 😦

image

Jadi kalau kamu berencana membawa keluarga ke Jepang, pikir dulu untuk membeli motor karena tidak bisa digunakan untuk bawa penumpang, jangan dibayangkan seperti pengendara motor di Indonesia yang bawa satu keluarga kalau pulang kampung ya…

3. Mobil
Sarana ini cukup nyaman, melindungi dari panas matahari dan dinginnya salju. Harganya juga sebenarnya tidak terlalu mahal, sepeda justru yang lebih mahal. Yang membuat mobil menjadi mahal adalah SIM nya. Sulit sekali untuk mendapatkan SIM di Jepang. Ada yang tes hingga berkali-kali bahkan puluhan kali baru bisa lulus. Akan lebih mudah ikut tes jika kamu kursus mengemudi dulu dan ini perlu biaya yang tidak sedikit.

image

Jika kamu membawa balita di dalam mobil, maka diperlukan carseat khusus jika kamu tidak mau ditilang. Jumlah penumpang pun dibatasi sesuai dengan kapasitas mobil.

Mobil merupakan sarana yang cocok jika kamu membawa keluarga (ini menurut saya). Kenapa?
– Bisa kemana-mana bawa keluarga, kalau perjalanan jauh, hitungan tiket per orang jadinya mahal.
– Ga terbatas waktu, misalnya jalan-jalan pulang malam ga masalah, kl naik bus atau kereta ada batas waktu operasionalnya, apalagi bus cuma sampai sore aja.
-Bisa jalan-jalan keluar kota dan penginapan gratis(tidur di mobil)

Semoga dapat membantu menentukan pilihan ya. Dan pastikan apakah Anda berencana membawa keluarga atau tidak.

Previous Older Entries